Problem moral dan karakter menjadi persoalan yang akut dan kronis. Krisis moral dan rapuhnya karakter bangsa karena terabaikannya pendidikan karakter. Maka program tahfidz Al-Qur’an bisa menjadi alternatif dalam kurikulum pendidikan untuk mengatasi rapuhnya moral dan karakter. Melalui program tahfidz Al-Qur’an, anak tidak hanya dapat meningkatkan kemampuan dalam membaca dan menghafal al-Qur’an, akan tetapi anak sekaligus dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta membentuk karakter cinta Nabi SAW, ahlul bait, dan cinta membaca Al-Qur’an, sebagaimana hadits Nabi SAW :
أَدِّبُوْا أَوْلاَدَكُمْ عَلَى ثَلاَثِ خِصَالٍ حُبِّ نَبِيِّكُمْ وَحُبِّ أَهْلِ بَيْتِهِ وَحُبِّ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Artinya : Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara : Cinta kepada Nabimu, Cinta kepada Ahlul Baitnya, dan cinta membaca Al-Qur’an.”
Karakter cinta Al-Qur’an harus ditanamkan sejak dini, supaya dalam perilakunya nanti anak tertanam dan terbiasa dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Qur’an, nilai-nilai tersebut berkaitan dengan akhlaq rabbani berkaitan dengan penghambaan kepada Allah dan akhlaq insani terkait dengan interaksi terhadap sesama. Kalau sudah tertanam/terbiasa sejak dini (menjadi watak), maka karakter tersebut akan melekat hingga dewasa, sehingga menjadi manusia yang nemiliki karakter personal improvement, social skill, comprehensive problem solving.
Selain yang telah disebutkan, di antara nilai-nilai yang diajarkan di dunia pesantren bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab.
Mari membangun peradaban dengan menanamkan pendidikan karakter melalui pendidikan berkarakter Qur’ani guna membentuk manusia yang beradab.
#PPAC#pondokpesantrenalchalimi#SantriAlChalimi#Literasi#Pendidikan#Santri#Indonesia